Masyarakat Curiga
Masih teringat pada cerita kawan mengenai masyarakat Badui (Badui yang mana dan berdomisili di kabupaten mana…saya lupa). Hal pokok yang paling saya ingat ialah masalah jizyah. Jizyah ini mirip pajak yang kita bayar sebagai warga negara yang baik.
Dia melanjutkan, “Konon, pada zaman dahulu, Sultan Ageng Tirtayasa ialah penguasa di Tatar Sunda. Sultan Ageng baik budinya. Ia mempersilahkan masyarakat Badui yang tidak beragama Islam untuk hidup berdampingan dengan masyarakat Sunda yang Islam. Sebagai ucapan terima kasih, masyarakat Badui membayar jizyah hingga kini. Bednya kalau dulu dibayar ke Sultan, sekarang dibayar ke Atut (gubernur Banten)”.
***
Kawan tersebut menceritakan hal itu pada saya pada siang hari. Pada malam hari, saya harus kembali ke Depok, karena keesokan pagi hari saa harus kuliah (meskipun pada akhirnya, kuliah pagi tersebut batal.
Nah, saat malam hari, saya harus kembalikan helm teman saya di kontrakannya. Kami bersenda gurau, sesekali bercerita mengenai prediksi hidup pasca kuliah. Saya dan seorang teman saya ini yang mehegemoni pembicaraan malam itu. Dua orang yang lain tidur-tiduran sambil sesekali ikut menimpali pembicaraan.
Pas waktu luang di tengah senda gurau itu, saya ceritakan teman saya itu tentang masyarakat Badui, yang tadi pagi diceritakan teman saya yang lain. Jadi semacam distribusi cerita. Distrbusinya gratis, tidak seperti Petral pada Pertamina.
Menanggapi cerita masyarakat Badui yang saya sampaikan, teman saya seketika bertanya, “kenapa masyarakat Badui mau saja membayar? Kan sudah beda pemimpin. Emang ada hukumannya kalau mereka tidak membayar?”
***
Empat puluh lima menit lamanya saya singgah sebentar di kontarkan teman saya itu. Namun, hanya pertanyaan itu - yang di paragraf di atas- terngiang di kepala saya. Sepanjang jalanan sepi Margonda di tengah malam, dengan sesekali ngebut saya berpikir, apakah pertanyaan itu adalah cerminan kekinian kondisi hubungan rakyat-pemimpin; kawula-gusti; suprastruktur-substruktur?
Apa kita hidup di jaman dimana kita dituntut oleh “tangan yang tak terlihat” untuk saling curiga, susah bener percaya, kepercayaan tercipta dengan: kuat-kuatan kepentingan, kuat-kuatan kekuatan, saling cari celah untuk keuntungan pribadi, ke-aku-kamu-an, menang-kalah, survival-extinct, kompetisi kehidupan. Adakah syndrom suudzon akut sistemik yang mudah sekali menular?
***
Kuteringat kembali igauan-igauan ahli pikir jaman baheula tentang persoalan itu. Ahli pikir klasik semacam Plato dan Aristoteles yang berpendapat bahwa :
Manusia itu binatang biasa, tetapi kelebihannya karena memiliki akal. Bilamana akal itu dipakai buat kebaikan, maka itu adalah satu menusia komplit, tetapi bilamna akal itu dipakai buat kejahatan, maka manusia itu lebih buas dari binatang biasa.
[Masalah term binatang itu mirip dengan surat al-A’raf ayat 179 ya? Nah, konsep komplitnya manusia itu kalau kita Islamkan mungkin sesuai dengan konsep ahsani taqwim- nya manusia saat penciptaanya]
Lanjut pada Plato, dia bilang manusia baik dapat dicapai dengan jalan pendidikan. Si Aristteles bilang, disamping itu perlu juga undang-undang hukum dan keadilan.
Masalah keburukan manusia, Machiavelli jagonya. Dia bilang: “Siapa yang akan mendirikan suatu negara ang teratur, harus mulai dengan asumsi bahwa semua manusia itu pada hakekatnya jahat, dan pada waktu tertentu sedia memperlihatkan sifat jahatnya, di mana saja ia mendapat kesembatan”
Yang paling seru, Plato bilang:
Sebenarnya semua manusia percaya dalam hati kecilnya, bahwa ketidakadilan lebih menguntungakn satu individu daripada adanya keadilan. Banyak orang secara diam-diam menyetujui pendapat ini. Andaikata seseorang mempunyai kekuasaan, dan ia tak pernah memakai kekuasaan buat keperluan pribadinya, akan banyak orang mengatakan, bahwa orang itu sinting (“most wretched idiot”)
(dikutip dari tulisan Dr. Abu Hanifah, “Menyambut Ceramah Mochtar Lubis : Renungan tentang Manusia Indonesia Masa Kini”
Nah itulah manusia! Kau harus ikuti “tangan tak terlihat” itu! Ronggowarsito pun mengalah. Dia bilang: SAIKI ZAMANE ZAMAN EDAN, YEN ORA EDAN ORA KEDUMAN!
Aduhai….manusia.
***
Aku rindu betul hubungan harmonis seperti hubungan antar masyarakat Badui, masyarakat Badui dengan kesultanan, kepercayaan masyarakat Badui pada Ibu Atut (meskipun di media massa, citra Ibu Atut buruk sekali. Seakan-akan masyarakat rela menerima konsekuensi (berjiwa ksatria) menangnya Ibu Atut di pemilu).
Aku rindu betul hubungan harmonis seperti hubungan masyarakat Yogya dengan Kesultanan. Rayyat taati Sultan. Seakan-akan hubungan harmonis itu yang bikin manusia Jogja beradab setidaknya dalam hal kesenian dan rendahnya tingkat korupsi. Hubungan harmonis itu melampaui kaidah-kaidah politik kontemporer yang mensyaratkan demokrasi sebagai pijakan awal masyarakat madani.
Aku rindu betul kondisi anggota Tentara Nasional Indonesia yang taat dan patuh pada komando Jenderal Soedirman.
Aku rindu betul akan ketaatan rakyat Jakarta untuk pulang ke rumah dengan tertib pasca Bung Karno berpidato di lapangan Ikada.
Aku rindu betul ketaatan Abu Bakar pada Rasul SAW prihal Isra Mi’raj!
***
Begitu dalamnya rinduku pada kondisi demikian. Malam di jalanan, lampu kuning tak begitu redup di UI tengah hari menambah kesyahduan. Mungkin romantisme.
Tak terasa begitu cepat aku kembali ke kost. Di jalanan gang kukusan masih ada saja tikus-tikus got beraktivitas.
Nah, akhirnya sampai juga di depan gerbang kost. Namun kudengar ada percekcokan antar pria. Mungkin para tukang bangunan yang semingguan ini bekerja bikin kost-an baru di samping kostku. Samar terdengar salah seorang berseru:
“Sumpah saya melakukan hal itu tadi. Sumpah demi Allah! Masa’ kowe gak percaya?”
***
6 Sya’ban 1433 H /26 Juni 2012 M. Kukusan. Sore pukul 16.39 WIB. Suara anak kecil bermain. Suara bayi menangis. Lagu Iwan Fals di Winamp.