igauan mahasiswa

Surat Buffon jelang lawan Jerman

Ada saatnya dalam hidup ketika tak ada hal lain yang dilakukan selain mengikuti jalanmu sendiri, dan mengejar mimpi. Ini adalah tugas dari setiap orang.

Terlalu sering kita kecanduan dan menjadi mati rasa karena hal negatif yang mengelilingi kita. Terlalu sering kita pasrah pada nasib seperti yang diinginkan orang lain terhadap kita, dan kita
hampir selalu berhenti bermimpi setelah mencapai usia yang matang, atau setelah mencapai posisi tertentu dan pekerjaan yang memberi kita kebebasan, tetapi tidak membangkitkan imajinasi dan pikiran kita.

Sebagai seorang anak, saya bermimpi menjadi pemain sepak bola. Sebagai remaja, saya bermimpi menjadi kiper tim nasional dan Juventus. Sekitar umur 20 tahun, saya ingin memenangi
scudetto. Ketika berusia 25 tahun, saya mendapatkan Liga Champions dan Piala Dunia. Pada usia 30 tahun, kembali memenangi gelar liga bersama Juventus dan bermain di kejuaraan Eropa.

Sebagian besar target telah saya capai, dan ada beberapa yang belum. Saya tak pernah tahu apakah saya akan mencapainya. Namun, saya yakin bahwa satu-satunya cara untuk meraihnya adalah menginginkan semua itu, membuatnya menjadi hidup, meski terlihat seperti mimpi utopis (yang tak mungkin tercapai). Tanpa mimpi, seseorang tak akan hidup, tak bisa bertahan. Tanpa mimpi, Anda tak dapat mengendalikan kehidupan Anda, dan hanya menjadi sosok pudar yang menerima kehidupan tanpa peringatan, tanpa kejutan, tanpa kehidupan.

Datang ke Polandia dan berpikir untuk bermain di semifinal tak terpikirkan sebelumnya, setidaknya dalam pemanasan. Namun kami percaya diri, kami benar-benar menginginkannya, kami benar-benar mengharapkannya, dan setiap pengorbanan dilakukan demi mencapai tujuan kami!

Sekarang tampaknya setiap rintangan bisa diatasi; mungkin akan berlanjut, tetapi sekarang ketika kita telah sampai sejauh ini. Kita harus berani untuk maju sedikit lagi… menuju mimpi… menuju kebahagiaan….

Maju terus, Italia!

Masyarakat Curiga

Masih teringat pada cerita kawan mengenai masyarakat Badui (Badui yang mana dan berdomisili di kabupaten mana…saya lupa). Hal pokok yang paling saya ingat ialah masalah jizyah. Jizyah ini mirip pajak yang kita bayar sebagai warga negara yang baik.

Dia melanjutkan, “Konon, pada zaman dahulu, Sultan Ageng Tirtayasa ialah penguasa di Tatar Sunda. Sultan Ageng baik budinya. Ia mempersilahkan masyarakat Badui yang tidak beragama Islam untuk hidup berdampingan dengan masyarakat Sunda yang Islam. Sebagai ucapan terima kasih, masyarakat Badui membayar jizyah hingga kini. Bednya kalau dulu dibayar ke Sultan, sekarang dibayar ke Atut (gubernur Banten)”.

                                                   ***

Kawan tersebut menceritakan hal itu pada saya pada siang hari. Pada malam hari, saya harus kembali ke Depok, karena keesokan pagi hari saa harus kuliah (meskipun pada akhirnya, kuliah pagi tersebut batal.

Nah, saat malam hari, saya harus kembalikan helm teman saya di kontrakannya. Kami bersenda gurau, sesekali bercerita mengenai prediksi hidup pasca kuliah. Saya dan seorang teman saya ini yang mehegemoni pembicaraan malam itu. Dua orang yang lain tidur-tiduran sambil sesekali ikut menimpali pembicaraan.

Pas waktu luang di tengah senda gurau itu, saya ceritakan teman saya itu tentang masyarakat Badui, yang tadi pagi diceritakan teman saya yang lain. Jadi semacam distribusi cerita. Distrbusinya gratis, tidak seperti Petral pada Pertamina.

Menanggapi cerita masyarakat Badui yang saya sampaikan, teman saya seketika bertanya, “kenapa masyarakat Badui mau saja membayar? Kan sudah beda pemimpin. Emang ada hukumannya kalau mereka tidak membayar?”

                                                   ***

Empat puluh lima menit lamanya saya singgah sebentar di kontarkan teman saya itu. Namun, hanya pertanyaan itu - yang di paragraf di atas- terngiang di kepala saya. Sepanjang jalanan sepi Margonda di tengah malam, dengan sesekali ngebut saya berpikir, apakah pertanyaan itu adalah cerminan kekinian kondisi hubungan rakyat-pemimpin; kawula-gusti; suprastruktur-substruktur?

Apa kita hidup di jaman dimana kita dituntut oleh “tangan yang tak terlihat” untuk saling curiga, susah bener percaya, kepercayaan tercipta dengan: kuat-kuatan kepentingan, kuat-kuatan kekuatan, saling cari celah untuk keuntungan pribadi, ke-aku-kamu-an, menang-kalah, survival-extinct, kompetisi kehidupan. Adakah syndrom suudzon akut sistemik yang mudah sekali menular?

                                                    ***
Kuteringat kembali igauan-igauan ahli pikir jaman baheula tentang persoalan itu. Ahli pikir klasik semacam Plato dan Aristoteles yang berpendapat bahwa :

Manusia itu binatang biasa, tetapi kelebihannya karena memiliki akal. Bilamana akal itu dipakai buat kebaikan, maka itu adalah satu menusia komplit, tetapi bilamna akal itu dipakai buat kejahatan, maka manusia itu lebih buas dari binatang biasa.

[Masalah term binatang itu mirip dengan surat al-A’raf ayat 179 ya? Nah, konsep komplitnya manusia itu kalau kita Islamkan mungkin sesuai dengan konsep ahsani taqwim- nya manusia saat penciptaanya]

Lanjut pada Plato, dia bilang manusia baik dapat dicapai dengan jalan pendidikan. Si Aristteles bilang, disamping itu perlu juga undang-undang hukum dan keadilan.

Masalah keburukan manusia, Machiavelli jagonya. Dia bilang: “Siapa yang akan mendirikan suatu negara ang teratur, harus mulai dengan asumsi bahwa semua manusia itu pada hakekatnya jahat, dan pada waktu tertentu sedia memperlihatkan sifat jahatnya, di mana saja ia mendapat kesembatan”

Yang paling seru, Plato bilang:

Sebenarnya semua manusia percaya dalam hati kecilnya, bahwa ketidakadilan lebih menguntungakn satu individu daripada adanya keadilan. Banyak orang secara diam-diam menyetujui pendapat ini. Andaikata seseorang mempunyai kekuasaan, dan ia tak pernah memakai kekuasaan buat keperluan pribadinya, akan banyak orang mengatakan, bahwa orang itu sinting (“most wretched idiot”)

(dikutip dari tulisan Dr. Abu Hanifah, “Menyambut Ceramah Mochtar Lubis : Renungan tentang Manusia Indonesia Masa Kini”

Nah itulah manusia! Kau harus ikuti “tangan tak terlihat” itu! Ronggowarsito pun mengalah. Dia bilang: SAIKI ZAMANE ZAMAN EDAN, YEN ORA EDAN ORA KEDUMAN!


Aduhai….manusia.

                                                      ***

Aku rindu betul hubungan harmonis seperti hubungan antar masyarakat Badui, masyarakat Badui dengan kesultanan, kepercayaan masyarakat Badui pada Ibu Atut (meskipun di media massa, citra Ibu Atut buruk sekali. Seakan-akan masyarakat rela menerima konsekuensi (berjiwa ksatria) menangnya Ibu Atut di pemilu).

Aku rindu betul hubungan harmonis seperti hubungan masyarakat Yogya dengan Kesultanan. Rayyat taati Sultan. Seakan-akan hubungan harmonis itu yang bikin manusia Jogja beradab setidaknya dalam hal kesenian dan rendahnya tingkat korupsi. Hubungan harmonis itu melampaui kaidah-kaidah politik kontemporer yang mensyaratkan demokrasi sebagai pijakan awal masyarakat madani.

Aku rindu betul kondisi anggota Tentara Nasional Indonesia yang taat dan patuh pada komando Jenderal Soedirman.

Aku rindu betul akan ketaatan rakyat Jakarta untuk pulang ke rumah dengan tertib pasca Bung Karno berpidato di lapangan Ikada.

Aku rindu betul ketaatan Abu Bakar pada Rasul SAW prihal Isra Mi’raj!

                                             ***

Begitu dalamnya rinduku pada kondisi demikian. Malam di jalanan, lampu kuning tak begitu redup di UI tengah hari menambah kesyahduan. Mungkin romantisme.

Tak terasa begitu cepat aku kembali ke kost. Di jalanan gang kukusan masih ada saja tikus-tikus got beraktivitas.

Nah, akhirnya sampai juga di depan gerbang kost. Namun kudengar ada percekcokan antar pria. Mungkin para tukang bangunan yang semingguan ini bekerja bikin kost-an baru di samping kostku. Samar terdengar salah seorang berseru:
“Sumpah saya melakukan hal itu tadi. Sumpah demi Allah! Masa’ kowe gak percaya?”

                                            ***

6 Sya’ban 1433 H /26 Juni 2012 M. Kukusan. Sore pukul 16.39 WIB. Suara anak kecil bermain. Suara bayi menangis. Lagu Iwan Fals di Winamp.

eatsleepdraw:

Pilgrimage. Oil on paper. 23.4 x 16.5 in. 12 June 2012. By Alfred Marasigan

eatsleepdraw:

Pilgrimage. Oil on paper. 23.4 x 16.5 in. 12 June 2012. 
By Alfred Marasigan

Rasionalku, Rasional Anda, Rasional Kita

Apa saja benih-benih kehancuran itu? Pertama, lonjakan ekonomi itu sendiri. Lonjakan ini adalah gelembung semu (bubble) yang terjadi karena pertumbuhan harga aset yang tidak lagi terkait dengan nilai yang dikandungnya. Gelembung ini sudah menjadi ciri klasik kapitalisme selama berabad-abad.

Pada awal abad ke-17 terjadi demam bunga tulip di Belanda. Harga setangkai tulip melambungsampai setara dengan ribuan dolar. Setiap investor berkenan membayar harga itu karena YAKIN bisa menjualnya kembali ke pihak lain dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Lonjakan macam ini didasari oleh kegairahan irasional (irasional exuberance) tertentu. Dan irasionalitas pasar tidak hanya terjadi dalam demam bunga tulip, tetapi juga saat investor bersedia membayar miliaran dolar untuk perusahaan yang tidak pernah bisa menunjukkan - dan sepertinya tidak akan pernah menghasilkan keuntungan

[Joseph E. Stiglitzh, Dekade Keserakahan Era ‘90-an dan Awal Mula Petaka Ekonomi Dunia, (Judul Asli : The Roaring Nineties), Margin Kiri, Serpong, 2006, halaman 10]  

Saya kira Kanjeng Nabi Muhammad SAW. tidaklah pas jika dipaksakan untuk mengenakan predikat-predikat kekinian-keduniawian semacam: presiden, panglima, ahli politik, filsuf. Apalagi sekedar seorang ekonom!

Cukuplah predikat Rasulullah disandangnya.

Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”  (Q.S Al Ahzab: 40)

Bagaimana penjelasannya? Mari kita ambil contoh dari dimensi ekonomi!

Ihwal kapasitas dalam bidang ilmu ekonomi, bagaimana kita bisa menjamin Rasulullah saw. dapat mengetahui permasalahan ekonomi masyarakat dunia masa sekarang? Bagaimana kita bisa menganggap segala titah-titah beliau melalui Qur’an dan Sunnah menyangkut bidang ekonomi bisa kita taati sepenuhnya?Bukankah beliau seorang ‘ummi? Jelas beda dengan Smith, Keynes, Friedman, Stiglitz, atau dedengkot ekonomi lain yang dalam CV-nya penuh dengan riwayat-riwayat pendidikan formal.

Bukankah kondisi perekonomian saat itu sangatlah terlokalisir, beda ekstrem dengan sekarang dimana dunia telah terglobalisir.

Bukankah saat itu transaksi ekonomi hanya via kafilah-kafilah penungga onta? Beda jauhlah dengan kondisi sekarang dimana transaksi dalam berjumlah miliaran US dollar dalam per detik lewat revolusi dunia informasi dan teknologi!Ah, pasti sekedar igauan siang bolong untuk menengok kembali teori ekonomi Nabi! Dan jikapun teorinya benar, pasti sekedar kebetulan saja. “Tidak ilmiah, tidak mengikuti proses seleksi metodelogis ketat yang dijadikan rujukan seluruh scientist dunia” begitu profesor botak Ekonomi berujar (silahkan cari info lebih lanjut mengenai ilmu dan science dan perubahan total maknanya yang dipahami umum saat ini; yang tentu akan berpengaruh pada konsep Ilmu Ekonomi vis a vis Economics Science).

Kembali pada kutipan artikel di atas, ijinkan penulis membandingkannya dengan fenomena detik-detik menuju krisi Subprime Mortgage. Aset-aset property (baca: perumahan) mengalami bubble sedemikian rupa, sehingga tinggal menunggu waktu saja untuk kembali mengempis! (Silahkan kritik penulis, karena penulis hanya menagamati krisis ini dari sebuah film “Inside Job”, hehehehe)

Inti dari kutipan artikel di atas berkisar pada bunga tulip sebagai komoditas dan irasionalitas pasar. Irasionalitas pasar juga berlaku pada komoditas Property serta komoditas lain. Apakah para CEO perusahaan investasi, bank, asuransi yang ditengarai berdosa besar dalam krisis Subprime Mortgage itu tidak rasional?

Berbagai metodelogi dalam ilmu Manajemen Keuangan atau yang paling canggih pada ilmu Financial Engineering pasti telah dilalui oleh perusahaan tersebut. (Masalah ketidakterbukaan informasi oleh pihak perusahaan pada para pemegang saham tentu boleh kita perdalam di lain waktu).

Penulis hanya akan membahas masalah rasionalitas; baik  dalam keputusan investasi di perusahaan atau sekedar keputusan apakah rasional Patrick Wanggai menendang tendangan bebas ke arah tiang dekat atau jauh.

Boleh jadi para pemegang saham ataupun Stiglitz memandang investasi tersebut irasional, sangat riskan dan berpeluang besar menuju kerugian, namun di lain pihak para CEO dengan para ahli manajemen keuangan dan financial engineering-nya menganggap investasi itu sangat rasional (karena telah melalui proses “seleksi metodelogis ketat yang dijadikan rujukan seluruh scientist dunia” yang telah disyaratkan profesor botak ekonomi)

Irasionalitas pasar; dengan kasus seperti di atas tentu akan terjadi terus menerus oleh karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan ekonomi dan finansial (entah, mengapa hal ini sesuai dengan aksioma di paham kapitalisme bahwa business cycle sepanjang sejarah tidak dapat diprediksi fluktuasinya)

Begitu pula dengan keputusan Patrick Wanggai untuk menendang tendangan bebas ke tiang jauh, boleh jadi kiper lawan menganggap hal itu tidak rasional.

Syahdan, ketika Patrick Wanggai menendang bola, kiper malah bergerak ke arah tiang dekat, dan… Gooooollllll!!!!

Liarnya pemahaman kita pada sosok rasional ini, tentu secara langgeng akan menghantui benak kita; apalah yang bisa kita jadikan pegangan dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan, baik pribadi maupun sosial?

Biarkan pertanyaan  itu saudara-saudara pembaca jawab sendiri dalam batin yang paling jernih dan dalam.

Sebelum artikel opini ini penulis tutup, sesungguhnya Kanjeng Nabi SAW. telah memberi abstraksi mengenai permasalahan komoditas, irasionalitas pasar, spekulasi, dan peluang -salah satu pihak antara penjual maupun pembeli- untuk melakukan praktek kecurangan. Hal-hal tersebut merupakan variabel-variabel pendukung terjadinya economy bubble; yaitu seperti gelembung yang nilai luarannya (nominal) besar, tetapi jika ditusuk, nilai dalamannya (riil) kecil.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Bahwa Rasulullah saw. melarang menjual buah-buahan sebelum tampak jadinya. Beliau melarang pihak penjual dan pembeli. (Shahih Muslim No.2827)

“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 275-279)

Mungkinkah kita dengar wejangan-wejangan yang terucap Kanjeng Nabi SAW yang bukan ekonom ini?

                                         Big fish eat the little one by: Pieter BrughelMalang, Angin Malam, Kolam Ikan, 23:52, 9 Juni 2012

Coba resapi puisi sejenak. Sandarkan pikiran dari rutinitas kehidupan hampa nilai. Bukan untuk menghindari masalah.

" Aku ini bagaimana…atau kau yang bagaimana?” (Gus Mus)"